Studi Kasus_Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik
A. Deskripsi
Dalam
menunjang berhasilnya suatu proses pembelajaran, terdapat hal pokok yang sangat
berpengaruh terhadap proses pembelajaran itu sendiri meliputi kemampuan peserta
didik dalam mengikuti proses belajar dan kemampuan saya dalam menggunakan model,
metode dan media pembelajaran. Selama melaksanakan praktik pengalaman lapangan
di kelas VI SDS Regina Caeli, saya menemukan beberapa kasus dalam proses
pembelajaran. Kasus yang pertama adalah rendahnya kemampuan pemahaman numerasi
peserta didik, hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar peserta didik yang
masih rendah. Berikutnya adalah rendahnya minat/motivasi belajar, hal ini
ditunjukkan dengan beberapa peserta didik kurang merespon saya dan tidak ada
kemauan untuk menyampaikan ide/pendapatnya.
Kasus
di atas penting untuk dikaji lebih lanjut karena akan berdampak pada kemampuan
saya dalam melakukan evaluasi dan tindak lanjut serta membantu saya untuk
meningkatkan kompetensi pedagogik seperti penggunaan model, metode dan media
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, kemampuan
pengelolaan kelas dan kecakapan dalam penggunaan teknologi.
B. Analisis Situasi
Situasi yang terjadi pada saat perancangan
pembelajaran adalah saya masih belum memahami secara penuh mengenai model
pembelajaran problem based learning (PBL), saya jarang menggunakan
lembar kerja peserta didik (LKPD) ketika pembelajaran, dan kurang maksimal
dalam memanfaatkan penggunaan teknologi.
Peran saya dalam merancang dan evaluasi
adalah mencari sumber mengenai model pembelajaran problem based learning
(PBL) dengan sintak-sintak, membuat perangkat pembelajaran terstruktur, membuat
lembar kerja peserta didik (LKPD) yang bisa membantu peserta didik memahami
materi dan belajar mencari solusi dengan cara berdiskusi, menyiapkan
instrumen-instrumen evaluasi yang tepat untuk membantu dalam evaluasi
pembelajaran dan mengecek kesiapan sarapan dan prasarana yang akan digunakan.
Selain itu, saya mempersiapakan video yang berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari sebagai pemantik pengetahuan peserta didik.
Adapun yang terlibat dalam perancangan dan
evaluasi tersebut antara lain: saya yang merancang dan melaksanakan
pembelajaran, teman sejawat yang membantu melakukan observasi dan evaluasi, saya
pamong dan dosen yang ikut serta sit in ketika praktik pembelajaran
lapangan berlangsung dan memberikan masukan sebagai perbaikan, serta peserta
didik yang menjadi sasaran observasi.
Tantangan dan hambatan yang saya hadapi pada
saat merancang dan melakukan evaluasi pembelajaran adalah pengelolaan waktu yang
masih perlu diperbaiki supaya semua fase dalam model problem based learning
(PBL) dapat tersampaikan dengan maksimal, kurang memberikan soal pematik yang
lebih mendalam sehingga peserta didik terpancing untuk menganalisisnya, masih
ada pola teacher center, beberapa siswa yang belum terlibat aktif dalam
kegiatan pembelajaran, pada saat kegiatan diskusi ada beberapa peserta didik
yang belum berani mengungkapkan pendapat/idenya, dan beberapa peserta didik
yang mendapatkan hasil evaluasi belum tuntas dalam pembelajaran.
C. Alternatif Solusi
Langkah
nyata yang dilakukan dalam menghadapi tantangan merancang pembelajaran, dan
melakukan evaluasi pembelajaran adalah melakukan pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik, model pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran
problem based learning (PBL) dengan metode ceramah, diskusi, penugasan
dan presentasi. Model
pembelajaran problem based learning (PBL) adalah model pembelajaran yang mengutamakan seberapa aktif, berpikir kritis dan selalu terampil ketika
dihadapkan pada penyelesaian suatu permasalahan pada peserta didik. Tujuan belajar dengan
menggunakan problem based learning terkait dengan penguasaan materi
pengetahuan, keterampilan menyelesaikan masalah, belajar multidisiplin dan
keterampilan hidup. Pembelajaran dengan model problem based learning
memungkinkan siswa untuk terlibat dalam mempelajari hal-hal, antara lain:
permasalahan dunia nyata, keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterampilan
menyelesaikan masalah, belajar antardisiplin ilmu, belajar mandiri, belajar
menggali informasi, belajar bekerjasama dan belajar keterampilan berkomunikasi.
Selain itu, saya
harus mampu membuat rencana pembelajaran dengan tepat dan juga dapat menetapkan
waktu yang berdasarkan fase sehingga materi yang diajarkan tercapai. Saya lebih
kreatif dalam merancang pembelajaran dan membuat pembelajaran lebih menarik
dengan menggunakan video pembelajaran yang unik dan relevan untuk anak-anak
masa kini atau worksheet online, membiasakan kepada peserta didik untuk
dapat menemukan masalah dan menguji masalah tersebut secara kelompok. Saya
harus peka dalam melihat suasana kelas dan juga meningkatkan dalam penguasaan
kelas, ketika peserta didik tidak aktif dalam pembelajaran, terlalu aktif dan
bosan belajar saya harus sigap mengaturnya.
Sumber
daya atau materi yang digunakan untuk menjawab tantangan tersebut adalah guru
yang harus selalu siap menyediakan waktu dan tenaga untuk mempersiapkan
perangkat pembelajaran yang sesuai dengan model, metode dan media yang tepat
sesuai dengan karakteristik peserta didik, penggunaan teknologi dalam
pembelajaran yang digunakan untuk membantu guru menyampaikan materi dan menarik
minat peserta didik, penggunaan video pembelajaran yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari dan pemberian apersepsi dan apresiasi/reward yang
menarik.
D. Evaluasi
Komentar
Posting Komentar